Blitar, jurnalmataraman.com – Hujan yang turun tanpa henti dalam beberapa hari terakhir membawa dampak signifikan bagi para pengrajin kerupuk di Kabupaten Blitar. Proses pengeringan bahan kerupuk yang biasanya mengandalkan sinar matahari kini terhambat, sehingga mengganggu kelancaran produksi.
Akibat tidak adanya panas matahari, para pengrajin terpaksa menggunakan oven sebagai alternatif pengeringan. Namun, langkah ini membuat biaya produksi meningkat karena tingginya penggunaan gas elpiji.

Rio Yudistira, pengrajin sekaligus pemilik penggorengan kerupuk asal Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, mengakui bahwa musim penghujan membawa tantangan tersendiri bagi usahanya. Selain pengeringan menjadi lebih lama, biaya operasional juga membengkak. Bahan kerupuk harus benar-benar kering sebelum digoreng agar menghasilkan kerupuk yang renyah dan bermutu baik.
Meski demikian, Rio menilai musim hujan tak sepenuhnya merugikan. Permintaan kerupuk justru meningkat dibandingkan musim kemarau sehingga omzet pun cenderung naik.

Ia menambahkan, meskipun biaya produksi naik hingga 20 persen, dirinya tetap memilih tidak menaikkan harga jual. Hal ini dilakukan demi menjaga para pedagang langganan yang setiap hari mengambil kerupuk di tempat produksinya.
(Editor : Ilham & Wahyu Adi)



