Blitar, jurnalmataraman.com – Harga daging ayam potong di Kabupaten Blitar terus merangkak naik hingga menembus Rp. 37 ribu per kilogram. Kondisi ini dikeluhkan pedagang di pasar tradisional karena berdampak pada turunnya omzet penjualan mereka secara drastis.
Pantauan di Pasar Tradisional Srengat, harga daging ayam potong yang sebelumnya berada di kisaran Rp. 28 ribu hingga Rp. 29 ribu per kilogram, kini melonjak menjadi Rp. 36 ribu hingga Rp. 37 ribu. Kenaikan harga tersebut terjadi secara bertahap sejak dua bulan terakhir.
Sejumlah pedagang mengaku terbebani dengan kenaikan harga yang tak kunjung turun. Mereka menduga terbatasnya pasokan dari peternak menjadi penyebab utama. Pasokan ayam ras disebut berkurang karena banyak diborong oleh pengelola perusahaan makanan cepat saji sehingga distribusi ke pasar tradisional semakin sedikit.

“Akibat harga naik, penjualan kami menurun hingga 30 persen. Konsumen banyak yang mengurangi belanja ayam,” ujar Laeli salah satu pedagang daging ayam potong di Pasar Srengat.
Kenaikan harga ini juga berdampak langsung pada konsumen. Sebagian pembeli terpaksa beralih membeli bagian ayam yang lebih murah seperti kepala dan ceker, atau bahkan mengurangi konsumsi daging ayam. Hal tersebut tidak hanya merugikan pedagang, tetapi juga memengaruhi stabilitas harga bahan pangan di pasar tradisional.
Pedagang berharap harga ayam potong segera kembali stabil agar daya beli masyarakat pulih, penjualan kembali normal dan omzet mereka bisa kembali meningkat.
(Editor : Pandu & Wahyu Adi)



