Kediri, jurnalamataraman.com – Suasana sakral dan penuh semangat kebersamaan menyelimuti Desa Brenggolo, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri pada Jumat pagi (27/6), saat warga setempat menggelar tradisi Grebeg Suro bertepatan dengan 1 Suro atau 1 Muharram 1447 Hijriah. Perayaan ini diwarnai kirab budaya berupa 11 gunungan hasil bumi yang diarak dari Kantor Balai Desa menuju Lapangan Desa Brenggolo.
Grebeg Suro di Desa Brenggolo bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan bentuk pelestarian budaya warisan leluhur yang sarat nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan spiritualitas. Perayaan ini juga menjadi ruang yang menyatukan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang usia maupun latar belakang sosial.
Pemerintah Desa Brenggolo turut mengajak seluruh warga, mulai dari kepala desa, perangkat desa, hingga masyarakat dari 45 RT dan 11 RW untuk terlibat aktif dalam prosesi kirab. Rombongan kirab dipimpin langsung oleh Kepala Desa Brenggolo beserta istri, diikuti oleh para perangkat desa dan perwakilan warga.
Kirab dimulai dari Balai Desa, melintasi rute yang telah ditentukan, hingga tiba di Lapangan Desa Brenggolo. Sebelum tiba di lapangan, rombongan terlebih dahulu melakukan ziarah dan doa bersama di makam leluhur atau dayang desa, sebagai bentuk penghormatan terhadap para pendahulu yang telah mewariskan tradisi luhur ini.
Setibanya di lapangan, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, dilanjutkan dengan rebutan gunungan hasil bumi yang menjadi simbol rasa syukur atas limpahan rezeki dan harapan akan keberkahan di tahun yang baru. Sebanyak 2.000 bungkus lengkong juga dibagikan kepada masyarakat sebagai bagian dari tradisi berbagi.
“Tradisi ini merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Kami ingin seluruh generasi, terutama anak-anak muda, memahami dan bangga akan akar budaya mereka,” ujar Kepala Desa Brenggolo
Dengan semangat guyub rukun dan gotong royong, Grebeg Suro di Desa Brenggolo kembali menjadi bukti bahwa tradisi dapat tetap hidup di tengah perkembangan zaman, dan menjadi identitas yang memperkuat persatuan dalam masyarakat.
( editor : Dimas & Trias M.A )



