Kediri, jurnalmataraman.com – Sentra budidaya ikan cupang atau betta di Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, tengah menghadapi tantangan serius akibat perubahan suhu ekstrem yang terjadi sejak awal Februari hingga awal Mei 2025. Cuaca panas yang mencapai 36–38 derajat Celsius pada siang hari dan suhu dingin hingga 21 derajat Celsius pada malam hari menyebabkan penurunan produksi benih ikan hingga 90 persen. Akibatnya, para petani mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Santoso, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Maju Mandiri, menjelaskan bahwa suhu ekstrem mengganggu proses pemijahan ikan cupang. Dalam kondisi normal, suhu ideal untuk pemijahan berada di kisaran 27–32 derajat Celsius. Namun, suhu yang terlalu tinggi atau rendah menyebabkan indukan ikan enggan melakukan pemijahan, sehingga produksi benih menurun drastis. Dari 400 pasang indukan yang dipersiapkan, hanya sekitar 30 pasang yang berhasil menghasilkan benih, dengan total sekitar 10.000 ekor, jauh berkurang dibandingkan kondisi normal yang bisa mencapai 50.000 ekor per bulan.
Selain itu, cuaca ekstrem juga memperlambat pertumbuhan benih ikan. Biasanya, benih ikan cupang siap panen dalam waktu 15 hari, namun saat ini proses tersebut memakan waktu hingga 20 hari, meningkatkan biaya produksi.
Untuk mengatasi masalah ini, para pembudidaya melakukan berbagai upaya mitigasi, seperti memasang paranet untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung, memberikan daun pisang sebagai tempat berlindung bagi ikan, serta rutin memberikan obat pembasmi virus dan jamur. Mereka juga mengosongkan kolam dalam beberapa hari dan melakukan pembersihan kolam untuk menormalkan suhu dan kualitas air.
Sentra budidaya ikan cupang di Kelurahan Ketami, yang dikenal sebagai “Kampung Betta”, memiliki sekitar 120 kepala keluarga yang aktif dalam usaha ini. Ikan cupang dari daerah ini telah menembus pasar domestik dan ekspor ke berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Jerman, Prancis, Spanyol, dan Amerika Serikat.
Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Perikanan mengimbau para pembudidaya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca dan menjaga kualitas lingkungan kolam agar kesehatan ikan tetap terjaga. Langkah-langkah preventif seperti mengurangi padat tebar ikan dan memantau kondisi air kolam secara rutin diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif dari cuaca ekstrem.
Dengan upaya bersama antara pembudidaya dan pemerintah, diharapkan sektor budidaya ikan cupang di Kota Kediri dapat bertahan dan berkembang meskipun menghadapi tantangan cuaca ekstrem.
(Editor : Nando & Trias M.A)



