Blitar, jurnalmataraman.com – Kecintaan terhadap seni tradisional jaranan mengantarkan Bayu Setiawan, warga Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, sukses mengembangkan usaha kerajinan barongan. Usaha yang dirintis sejak 2015 tersebut kini mampu menembus pasar lokal hingga luar kota, dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan.
Sebelum menekuni usaha kerajinan barongan, Bayu lebih dulu belajar teknik pembuatan barongan di Yogyakarta selama hampir lima tahun. Selain barongan, ia juga mendalami pembuatan kerajinan wayang kulit sebagai bekal pengembangan keterampilan.
Pada awal merintis usaha, Bayu hanya melayani pembuatan barongan berdasarkan pesanan. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya permintaan pasar, ia mulai memproduksi barongan secara rutin dan menyediakan stok yang dipasarkan di sejumlah lokasi wisata.
Produk yang dihasilkan kini semakin beragam, mulai dari barongan devil, barongan rampak, hingga barongan kucingan yang menjadi ciri khas kesenian Blitar. Untuk produk mainan, Bayu mematok harga mulai Rp. 25 ribu hingga Rp. 1 juta per buah, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.
Sementara itu, untuk barongan yang digunakan dalam pementasan, harga jual berkisar antara Rp. 2,5 juta hingga Rp. 4 juta per buah. Dalam satu minggu, Bayu mampu memproduksi sedikitnya 50 buah barongan, dengan rata-rata omzet mencapai sekitar Rp. 20 juta per bulan.
Saat ini, proses produksi dibantu oleh tiga orang pekerja. Dua di antaranya bertugas mencari kayu sebagai bahan utama barongan, sedangkan satu pekerja lainnya membantu proses pembuatan. Meski penjualan terbilang stabil, Bayu mengaku terus berupaya memperbarui desain dan mengikuti perkembangan tren pasar agar produknya tetap diminati.
(Editor : Wahyu Adi)



