Trenggalek, jurnalmataraman.com – Ribuan masyarakat memadati kawasan Dam Widoro untuk menyaksikan ajang balap gethek perdana di Trenggalek Lomba tradisional ini menjadi salah satu rangkaian utama dalam Likaliku Festival Sungai Trenggalek, sebuah agenda yang mengangkat budaya, ekologi, dan kebersamaan masyarakat bantaran sungai.
Selain balap gethek Pemerintah Kabupaten Trenggalek bersama Jammaah Mbocah Widoro juga menggelar sejumlah kegiatan lain seperti metri kali, penebaran benih ikan, serta penanaman 100 bibit pohon durian dan alpukat sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Pelaksana tugas Kepala Disparbud Trenggalek Edi Santoso menjelaskan bahwa terdapat 16 tim yang ambil bagian dalam lomba balap gethek Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan Masyarakat tetapi juga upaya melestarikan budaya sekaligus menghidupkan kembali sejarah transportasi tradisional di wilayah sungai yang pernah digunakan oleh nenek moyang.
Pemerintah daerah meyakini bahwa pelestarian ekologi sungai akan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat Karena itu festival sungai diharapkan dapat menjadi momentum penting untuk mendorong kegiatan yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu peserta Miftakhul Huda mengungkapkan bahwa tantangan utama balap gethek adalah melawan arah angin Dengan jarak lomba sepanjang 200 meter para peserta membutuhkan tenaga ekstra untuk menggerakkan gethek Ia menyebutkan, banyak peserta bahkan rela iuran untuk membuat gethek secara swadaya demi mengikuti perlombaan tersebut.
Melihat tingginya antusiasme Masyarakat Pemkab Trenggalek berharap balap gethek bisa menjadi agenda tahunan yang mampu menarik wisatawan sekaligus menjaga keberlanjutan budaya dan ekologi sungai di Trenggalek.
(Editor : Kaila & Wahyu Adi)



