Trenggalek, jurnalmataraman.com – Dampak kemarau panjang kian meluas dan mengancam keberlangsungan ekosistem karst di Kabupaten Trenggalek. Peninjauan bersama Kementerian Lingkungan Hidup menemukan penurunan volume air sungai bawah tanah di Kalimati hingga mengeringnya Air Terjun Pelang.
Peninjauan tersebut menyasar empat titik utama, yakni Kalimati di Kecamatan Dongko, Pelang di Kecamatan Panggul, Gua Ngerit di Kecamatan Kampak, serta Goa Lowo di Kecamatan Watulimo. Dari keempat lokasi itu, hanya kawasan karst Goa Lowo yang dinilai masih terjaga dengan baik fungsi ekosistemnya, terutama pada aliran sungai bawah tanah.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Trenggalek menekankan pentingnya menjaga tutupan lahan di sekitar kawasan karst. Langkah ini krusial untuk mencegah sedimentasi tanah yang dapat mengganggu proses penyerapan air ke dalam goa.
Sekretaris DLH Trenggalek Ariyoga Widyasetyo Wahono menyampaikan bahwa pencegahan sedimentasi menjadi kunci utama dalam memelihara pasokan air di kawasan ekosistem tersebut.
Guna memperkuat upaya konservasi, pemerintah daerah mendorong identifikasi ulang cakupan ekosistem karst di wilayahnya. Pemkab meletakkan target agar Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan dan Pemanfaatan Karst dapat direalisasikan pada 2027 mendatang.
Berdasarkan data yang disampaikan DLH, wilayah yang berpotensi menjadi kawasan karst di Trenggalek mencapai sekitar 53 ribu hektare. Namun, hasil harmonisasi data sementara menunjukkan luas kawasan yang teridentifikasi berada di angka sekitar 23 ribu hektare.
Sebagai langkah lanjutan untuk memperjelas pendataan, tim dari Kementerian ESDM dijadwalkan berkunjung ke Trenggalek pada 28 dan 29 Oktober untuk mendukung pendataan kawasan karst secara menyeluruh. (Simon Bagus – Mochammad Herlambang)
(Editor: Nadya / Trias)



