Bitar, jurnalmataraman.com – Ratusan bayi penyu atau tukik hasil konservasi kembali dilepaskan ke perairan lepas Pantai Jolosutro, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar. Pelepasan ini menjadi agenda utama dalam gelaran Festival Penyu Jolosutro 2026 yang diinisiasi untuk memperingati Hari Penyu Sedunia, sekaligus menandai hadirnya fasilitas ekowisata (eco-tourism) dan konservasi tukik di wilayah tersebut.
Kawasan perairan selatan Jawa ini sejatinya merupakan habitat vital bagi berbagai spesies dilindungi, di antaranya penyu lekang, penyu hijau, penyu sisik, dan penyu belimbing. Namun, keberlangsungan hidup satwa laut ini terus terancam. Maraknya pengambilan telur ilegal, perburuan liar, degradasi habitat pesisir akibat abrasi dan banjir rob, hingga aktivitas perikanan yang tidak ramah lingkungan kerap mengganggu proses peneluran penyu.
Kondisi kritis inilah yang memantik keprihatinan Yuke Wiji Lestari. Sejak tujuh tahun lalu, ia bersama keluarganya merintis langkah penyelamatan penyu secara mandiri di Pantai Jolosutro. Melalui pendekatan edukatif dan pemberdayaan masyarakat yang konsisten, inisiatif kecil ini berkembang pesat. Kini, gerakan tersebut telah bertransformasi menjadi Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (KOMPAK) Jolosutro Lestari, sebuah wadah partisipatif yang merangkul nelayan, kelompok perempuan, pemuda, hingga pelajar.
Ketua KOMPAK Jolosutro Lestari, Yuke Wiji Lestari, memaparkan bahwa sejak awal berdiri, komunitas ini telah sukses menyelamatkan lebih dari 8.000 butir telur penyu dan mengembalikan sekitar 6.000 tukik ke lautan bebas. “Pada musim peneluran tahun ini, kami berhasil mengamankan 53 sarang yang berisi 5.350 butir telur penyu. Dari jumlah tersebut, sebanyak 429 tukik telah tuntas dilepasliarkan secara bertahap,” ungkap Yuke.
Upaya warga pesisir ini pun mendapat atensi dari kalangan akademisi. Koordinator Program Studi S1 Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (Unair), Abdul Manan, yang turut hadir dalam festival tersebut, menyebut bahwa konservasi tidak bisa berjalan sendiri. Menurutnya, Festival Penyu Jolosutro menjadi momentum strategis untuk memperkuat koordinasi lintas sektor. Sinergi yang solid antara masyarakat lokal, generasi muda, pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, hingga pegiat lingkungan sangat krusial dalam mendukung pelestarian ekosistem pesisir.
Langkah kolaboratif ini diharapkan tidak hanya mendukung upaya swadaya warga Jolosutro, tetapi juga sukses meningkatkan kesadaran kolektif serta mempertebal rasa kepemilikan masyarakat terhadap kelestarian sumber daya laut Indonesia.
( Editor : Saldi / Farid )



