Tulungagung, jurnalmataraman.com – Ratusan warga dari tiga wilayah di Jawa Timur bagian selatan berkumpul untuk saling beradu cambuk dalam Festival Seni Tradisional Tiban. Acara tersebut digelar di Amfiteater Tebing, Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Di tengah pergeseran zaman, tradisi unik yang lahir dari masyarakat agraris ini tetap dijaga kelestariannya dan kini bertransformasi menjadi ajang mempererat tali silaturahmi.
Di bawah sengatan terik matahari siang, atmosfer di sekitar amfiteater tampak memanas. Para peserta yang berasal dari Kabupaten Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek bergantian naik ke atas ring. Dengan bertelanjang dada, dua pria berhadapan dengan menggenggam cambuk yang terbuat dari anyaman lidi pohon aren, siap mendaratkan sabetan ke tubuh lawan.
Secara historis, seni Tiban dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai ritual sakral untuk meminta hujan saat musim kemarau panjang melanda. Namun dalam perkembangannya, nilai dari tradisi ini mengalami perluasan makna. Tiban tidak lagi dipandang sekadar ritual magis religius, melainkan telah dikemas menjadi seni pertunjukan daerah sekaligus wadah bertemunya para pencinta budaya Mataraman.
Sugiono, salah seorang penggiat seni Tiban, mengungkapkan bahwa konsistensi penyelenggaraan festival ini menjadi bukti komitmen masyarakat dalam merawat warisan nenek moyang. Menurutnya, kehadiran peserta dari luar daerah mempertegas bahwa seni Tiban memiliki daya tarik kultural yang kuat dan mampu menyatukan masyarakat dari berbagai wilayah.
Hal senada disampaikan oleh Mubin, salah satu peserta festival asal Kabupaten Trenggalek. Pria yang kerap berkeliling daerah demi mengikuti gelaran Tiban ini mengaku tidak pernah absen dalam acara serupa. Baginya, luka sabetan di tubuh adalah bagian dari seni yang harus dinikmati, bukan pemicu permusuhan. “Meski terasa perih dan sakit saat terkena cambukan lawan, tidak ada rasa dendam sama sekali di antara kami. Kami semua sudah saling mengenal karena sering bertemu di ring Tiban. Ini murni untuk silaturahmi dan menjaga persaudaraan,” ujar Mubin di lokasi acara.
Kendati tergolong sebagai budaya yang ekstrem dan sarat kontak fisik, festival ini tetap menerapkan aturan keselamatan yang ketat demi menghindari cedera fatal. Jalannya pertarungan dipimpin langsung oleh dua orang wasit yang bertindak tegas di dalam ring.
Setiap peserta hanya diberikan kesempatan untuk mencambuk sebanyak tiga kali secara bergantian. Aturan dasar yang tidak boleh dilanggar adalah larangan keras mengarahkan cambuk ke area kepala atau wajah lawan. Selain itu, untuk menjaga keadilan, seluruh peserta wajib menggunakan cambuk lidi aren yang disediakan khusus oleh pihak panitia, bukan membawa sendiri dari luar. Melalui pengawasan ketat dan sportivitas yang tinggi, Festival Seni Tradisional Tiban di Desa Wajak Kidul ini sukses menyuguhkan tontonan budaya yang memukau tanpa menodai nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan.
( Editor : Afif / Yusa )



