Jurnalmataraman.com
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA
No Result
View All Result
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA
No Result
View All Result
Jurnalmataraman.com
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Jaga Tradisi Leluhur, Ratusan Pria dari Tiga Daerah Beradu Cambuk di Festival Tiban Tulungagung

by Agus Bondan
15 Juni 2026 | 13:42
Reading Time: 2 mins read
0
Jaga Tradisi Leluhur, Ratusan Pria dari Tiga Daerah Beradu Cambuk di Festival Tiban Tulungagung

Tulungagung, jurnalmataraman.com – Ratusan warga dari tiga wilayah di Jawa Timur bagian selatan – Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek – berkumpul untuk saling beradu cambuk dalam Festival Seni Tradisional Tiban. Acara yang memacu adrenalin ini digelar di Amfiteater Tebing, Desa Wajak Kidul, Kec. Boyolangu, Kab. Tulungagung.

Di tengah sengatan terik matahari, para peserta tampak antusias mengikuti jalannya festival. Bagi masyarakat agraris, kesenian Tiban konon dipercaya sebagai ritual sakral untuk meminta hujan ketika musim kemarau melanda. Namun seiring perkembangan zaman, tradisi ekstrem ini kini dikemas sebagai ajang silaturahmi untuk mempererat persaudaraan antarpegiat seni Tiban dari berbagai daerah.

Seni Tiban sendiri menampilkan duel antara dua orang laki-laki bertelanjang dada di dalam ring. Senjata yang digunakan adalah cemeti atau cambuk yang terbuat dari anyaman lidi aren. Secara bergantian, kedua pria tersebut saling melayangkan cambukan ke badan lawan. Desa Wajak Kidul dikenal sebagai salah satu wilayah tempat lahir dan tumbuhnya kesenian tradisional ini, yang hingga kini kelestariannya terus dijaga ketat oleh masyarakat setempat.

Kendati tergolong sebagai budaya yang ekstrem, festival ini tetap menerapkan aturan keselamatan dan sportivitas yang ketat. Jalannya pertarungan dipimpin oleh dua orang wasit. Setiap peserta hanya diperbolehkan mencambuk sebanyak tiga kali secara bergantian dan dilarang keras mengarahkan cambuk ke area kepala lawan. Selain itu, seluruh alat cambuk lidi aren wajib disediakan oleh panitia guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Penggiat seni Tiban, Sugiono, menjelaskan bahwa esensi utama dari festival ini adalah merawat warisan budaya leluhur agar tidak punah digilas zaman, sekaligus mengubah stigma kekerasan menjadi ajang persaudaraan.

Semangat kebersamaan dan sportivitas ini diamini oleh Mubin, salah satu peserta asal Kabupaten Trenggalek. Pria yang hampir tidak pernah absen setiap kali ada gelaran Tiban di berbagai daerah ini mengaku menikmati setiap momen di atas ring, meskipun harus menahan rasa sakit. “Meski terasa perih dan sakit saat terkena cambukan lawan, sama sekali tidak ada rasa dendam di antara kami. Setelah turun dari ring, kami kembali biasa karena kami semua saling mengenal dan sering bertemu di berbagai arena Tiban,” pungkas Mubin.

( Editor : Saldi / Marchsa )

Bagikan di Media Sosial
Tags: festival tibanheadlineseni tradisionaltradisi leluhurTulungagung
ShareTweetShare
Next Post
Makin Ramah Anak Muda, Megawati Resmikan Renovasi Rumah Masa Kecil Bung Karno di Blitar

Makin Ramah Anak Muda, Megawati Resmikan Renovasi Rumah Masa Kecil Bung Karno di Blitar

Jurnalmataraman.com

© 2025 Jurnal Mataraman - Dekat dan Membangun .

Navigate Site

  • KONTAK
  • REDAKSI

Follow Us

No Result
View All Result
  • GAPURA
  • KEDIRI
  • BLITAR
  • TULUNGAGUNG
  • NGANJUK
  • TRENGGALEK
  • JAWA TIMUR
  • SUARA PEMBACA

© 2025 Jurnal Mataraman - Dekat dan Membangun .