Tulungagung, jurnalmataraman.com – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memberikan efek domino yang cukup memukul para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Salah satunya dirasakan oleh para perajin tahu di Kabupaten Tulungagung yang kini harus memutar otak demi menyiasati meroketnya harga kedelai impor.
Dalam kurun waktu empat bulan terakhir, tren harga bahan baku utama pembuatan tahu tersebut terus merangkak naik. Kondisi ini membuat para produsen berada di posisi yang dilematis. Kuswoyo, salah seorang perajin tahu di Desa Gondang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, menuturkan bahwa harga kedelai impor saat ini sudah menembus angka Rp 10.800 per kilogram.
“Harga ini mengalami lonjakan lumayan tajam dibandingkan sebelumnya, yang hanya berkisar di angka Rp 9.000 hingga Rp 9.500 per kilogramnya,” ungkap Kuswoyo pada Minggu. Naiknya harga bahan baku tersebut memaksa para produsen putar otak agar usaha mereka tetap bisa bertahan dan dapur tetap mengepul. Alih-alih menaikkan harga jual yang berisiko membuat pelanggan lari, Kuswoyo lebih memilih strategi lain, yakni memperkecil ukuran tahu.
Harga jual tahu buatan Kuswoyo tetap dipertahankan pada angka Rp 1.000 per potong. Namun, untuk menutupi biaya produksi, volume potongan dalam setiap cetakan dikurangi. “Jika biasanya satu loyang tahu diiris menjadi 150 potong, kini saya jadikan 160 potong,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kuswoyo menambahkan bahwa berdasarkan informasi dari pedagang kedelai langganannya, tren harga kedelai impor kemungkinan besar masih akan terus mengalami kenaikan ke depannya. Meski harga terus melambung, para perajin tahu di wilayah tersebut tetap kukuh memilih menggunakan kedelai impor ketimbang beralih ke kedelai lokal. Menurut Kuswoyo, hal ini murni karena persoalan kualitas. Tahu yang diproduksi menggunakan bahan baku kedelai impor terbukti lebih awet dan tahan lama jika dibandingkan dengan penggunaan kedelai lokal.
(Editor: Saldi/Sea)



