Surabaya, jurnalamataraman.com – Perusahaan Umum (Perum) Bulog memastikan cadangan pangan nasional dalam kondisi sangat aman. Pada akhir April 2026 ini, stok beras di wilayah Jawa Timur tercatat menembus angka 1,3 juta ton. Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah sekaligus menjadi indikator kuat kokohnya ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim global. Capaian fantastis di Jawa Timur ini turut mendongkrak Cadangan Beras Pemerintah (CBP) secara nasional yang kini telah melampaui 5 juta ton.
Direktur Pengadaan Perum Bulog Prihasto Setyanto menjelaskan, melimpahnya stok tersebut mencerminkan kesiapan Bulog dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di tengah masyarakat. Faktor utama di balik terjaganya stok nasional ini adalah masifnya penyerapan gabah petani yang terus berjalan optimal.
“Pada tahun 2025 lalu, target penyerapan sebesar 3 juta ton setara beras telah berhasil kita capai. Sedangkan pada tahun 2026 ini, pemerintah menargetkan penyerapan sebesar 4 juta ton, di mana realisasinya saat ini sudah menyentuh angka sekitar 60 persen,” terang Prihasto.
Selain beras, Bulog juga memastikan ketersediaan komoditas jagung di Jawa Timur dalam kondisi aman. Saat ini, cadangan jagung di Jatim telah mencapai 55 ribu ton dan diproyeksikan akan terus bertambah seiring masa panen. Secara nasional, pemerintah membidik target pengadaan jagung hingga 1 juta ton yang nantinya akan didistribusikan ke berbagai provinsi guna menjaga stabilitas pakan ternak dan kebutuhan industri.
Kinerja impresif dalam menjaga stabilitas pangan ini mendapat apresiasi dari kalangan parlemen. Ketua Komisi V DPR RI Anggia Ermarini menilai, tingkat produktivitas dan serapan pangan yang dilakukan Bulog saat ini menunjukkan hasil yang sangat positif. Menurutnya, capaian ini semakin memperkuat optimisme publik dan pemerintah terhadap terwujudnya visi swasembada pangan nasional.
Meski demikian, melimpahnya stok pangan ini bukan tanpa kendala. Tantangan utama yang dihadapi Perum Bulog saat ini adalah keterbatasan kapasitas gudang penyimpanan akibat derasnya arus masuk gabah dan beras dari petani. Untuk mengantisipasi penumpukan dan menjaga kualitas beras, upaya penambahan serta perluasan ruang penyimpanan kini terus dikebut di berbagai daerah sentra produksi, salah satunya di Kabupaten Tulungagung.
( Editor : Saldi / Juwita )



