Tulungagung, jurnalmataraman.com – Ratusan umat di Klenteng Tjoe Tik Kiong, Tulungagung, menggelar Sembahyang Jao Tu atau ritual pelimpahan jasa leluhur pada Minggu(31/8). Tradisi yang rutin dilaksanakan bertepatan dengan bulan ketujuh penanggalan Imlek ini bertujuan untuk menghormati dan mendoakan arwah leluhur agar terlahir kembali di alam yang lebih baik.
Ritual yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan tersebut dipimpin langsung oleh seorang pandita. Prosesi diawali dengan pendaftaran nama-nama leluhur yang kemudian diletakkan di altar yang diterangi cahaya lilin dan dilengkapi berbagai sesaji. Setelah itu, umat melantunkan doa dan pembacaan sutra, memberikan persembahan makanan dan dupa, serta ditutup dengan tradisi pembakaran kertas sembahyang.
Pada gelaran kali ini, Sembahyang Jao Tu di Klenteng Tjoe Tik Kiong secara khusus mendoakan 900 nama arwah yang berasal dari 150 keluarga. Sembahyang ini diyakini sebagai wujud bakti keturunan yang masih hidup untuk melakukan perbuatan baik dan mengalirkan pahala kepada leluhurnya. Di sisi lain, momen ini juga dipercaya mampu menanam benih keberkahan serta mempererat ikatan kekeluargaan bagi mereka yang masih hidup.
Bio Ma Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung, Tjio Jing Jing, menyampaikan bahwa rangkaian ritual ini tidak hanya berhenti pada doa pelimpahan jasa semata. Keesokan harinya, umat kembali berkumpul untuk melanjutkan tradisi dengan menggelar sembahyang rebutan.
Kegiatan lanjutan ini ditujukan untuk mendoakan arwah leluhur serta arwah-arwah yang sudah tidak memiliki keluarga atau telantar. “Setelah ritual ini selesai, keesokan harinya kami lanjutkan dengan pembagian paket sembako kepada warga kurang mampu yang bermukim di sekitar area klenteng sebagai bentuk kepedulian sosial,” ujar Tjio Jing Jing.(Agus Bondan/Beny Setiawan)
(Editor: Trias / Atha)





