Blitar, jurnalmataraman.com – Langgar Gantung An-Nur di Jalan Kemuning, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, menjadi salah satu bukti sejarah penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Bangunan sederhana itu telah berdiri sejak 1825 atau hampir dua abad lalu.
Langgar yang berada di belakang Masjid USSISA tersebut tetap eksis sebagai tempat ibadah hingga kini. Dikenal dengan desain rumah panggung, bangunan itu digunakan untuk salat lima waktu, termasuk salat tarawih selama Ramadan.
Penamaan langgar gantung merujuk pada konstruksinya yang ditopang sekitar satu meter di atas permukaan tanah. Musala tersebut pertama kali didirikan oleh Mbah Irodikoro, prajurit laskar Pangeran Diponegoro dari Jawa Tengah yang bergerilya melawan penjajah Belanda.
Konon, selain menjadi tempat ibadah, lokasi tersebut juga difungsikan sebagai pusat penyusunan strategi perjuangan. Di tempat itu pula menjadi salah satu cikal bakal penyebaran Islam di Blitar. Saat awal dibangun, kawasan sekitar masih berupa hutan belantara. Struktur panggung dibuat untuk menghindari gangguan hewan buas.
Ketua takmir langgar, Isman Hudi, mengatakan hingga kini bangunan asli masih dipertahankan. Struktur kayu penyangga, dinding, hingga atap merupakan konstruksi lama yang tetap dirawat.
“Masih digunakan untuk salat, tadarus, dan kegiatan ibadah lainnya,” ujarnya.
Dengan konstruksi kayu dan bambu serta arsitektur khas rumah Jawa, suasana di dalam langgar terasa sejuk dan nyaman. Keberadaan Langgar Gantung An-Nur kini menjadi bagian dari sejarah panjang perjuangan sekaligus tradisi spiritual masyarakat Blitar yang terus dilestarikan.
(Editor : Saldi)



