Tulungagung, jurnalmataraman.com – Cuaca buruk yang melanda perairan selatan Tulungagung selama hampir sepekan terakhir menyebabkan aktivitas nelayan di Teluk Popoh, Desa Besole, Kecamatan Besuki, terhenti. Akibatnya, pasokan ikan di pasaran menurun drastis, yang memicu kenaikan harga sejumlah komoditas laut.
Sejak Senin, (25/8) gelombang tinggi setinggi 3 hingga 4 meter disertai angin kencang menghantam kawasan perairan selatan Tulungagung. Kondisi ini membuat sebagian besar nelayan memilih tidak melaut demi keselamatan.
“Kalau dipaksakan, sangat berisiko. Kami lebih baik menunggu cuaca membaik,” ujar Sutar, salah satu nelayan Teluk Popoh.
Berkurangnya aktivitas penangkapan ikan berdampak langsung pada ketersediaan ikan di pasaran. Harga beberapa jenis ikan mengalami lonjakan. Ikan tongkol kecil kini dijual hingga Rp15.000 per kilogram, tuna Rp18.000 per kilogram, sedangkan ikan layur berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram.
Kendati demikian, beberapa nelayan tetap nekat melaut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama sehingga mayoritas nelayan lebih memilih menunggu cuaca kembali bersahabat.
Tidak hanya itu, cuaca ekstrem juga menyebabkan sebuah kapal yang tengah bersandar di Teluk Popoh hanyut dan terdampat di Pantai Tangkilan pada Jumat lalu.
Syahbandar Pelabuhan Ikan Popoh, Arif Wahyudi menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini diperkirakan akan mereda pada minggu pertama September. Pihaknya telah mengimbau seluruh nelayan agar menunda aktivitas melaut hingga situasi di laut benar-benar dinyatakan aman.
“Keselamatan adalah yang utama. Kami terus memantau kondisi cuaca dan memberi informasi terkini kepada nelayan,” ujar Arif.
(Editor : Trias M.A)



