Kediri, Jurnalmataraman.com – Suasana penuh suka cita menyelimuti Desa Jarak Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri saat ratusan warga berkumpul dalam tradisi tahunan bertajuk Kebur Ubalan. Acara yang dilaksanakan setiap bulan Suro menurut penanggalan Jawa ini menjadi bentuk syukur warga atas limpahan air dari sumber mata air Ubalan yang tetap mengalir meski musim kemarau melanda.
Warga tampak antusias menyiramkan air kepada satu sama lain termasuk kepada pengunjung yang hadir. Aksi saling menyiram ini dipercaya sebagai simbol syukur atas berkah air yang melimpah serta harapan akan turunnya hujan dan hasil panen yang lebih baik di musim tanam mendatang.
Tak hanya itu tradisi yang sarat makna ini juga diwarnai dengan kirab lima gunungan hasil bumi Empat di antaranya mewakili empat penjuru Desa Jarak sementara satu gunungan utama setinggi lima meter menjadi simbol pusat kehidupan masyarakat desa.
Gunungan-gunungan tersebut disusun indah dari hasil panen warga seperti kacang panjang, terong, jagung, kubis, nanas, cabai, hingga bawang merah semuanya merupakan produk lokal yang melimpah. Usai kirab warga tampak berebut hasil bumi dari gunungan, karena diyakini siapa yang mendapatkannya akan memperoleh berkah.
Kepala Desa Jarak Mohamad Toha menjelaskan bahwa tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi warisan budaya yang dijaga kelestariannya.
“Kegiatan ini sebagai wujud rasa syukur atas berkah air dari sumber Ubalan yang tak pernah kering meski kemarau panjang Selain itu ini juga bentuk syukur atas hasil panen selama setahun terakhir” ujar Toha.
Tradisi ini mendapat apresiasi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri. Kepala Bidang Museum dan Purbakala Eko Priyatno menyebut bahwa Kebur Ubalan bukan sekadar tradisi melainkan kekayaan budaya yang sarat nilai historis dan spiritual.
“Sumber mata air Ubalan sejak zaman kolonial Belanda telah dimanfaatkan untuk irigasi pabrik gula Jengkol Kini tempat ini juga berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang penting” tutur Eko.
Lebih dari sekadar sumber air Sendang Ubalan juga menyimpan cerita rakyat yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat. Menurut kepercayaan warga sumber mata air ini berasal dari kisah tragis cinta antara Gendam Smaradana seorang pemuda dan permaisuri Adipati Panjer Dikejar karena dianggap mencuri istri orang pasangan ini akhirnya melompat ke sebuah sumber dan hilang Dari sanalah air mulai meluap atau dalam bahasa Jawa disebut “mubal-mubal” yang kemudian menjadi asal muasal nama Ubalan.
Masyarakat meyakini bahwa pasangan tersebut tidak pernah kembali dan tempat itu kini disebut sebagai Sendang Pengantin, sebuah situs yang diyakini sakral dan penuh nilai mistis.
Tradisi Kebur Ubalan tidak hanya merekatkan hubungan sosial antarwarga, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi yang semakin deras.
(Editor: Kaila & Trias M.A)




