Kediri, jurnalmataraman.com – Untuk mengembangkan potensi lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap buah impor, sekelompok petani di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, membentuk Kampung Anggur sebagai pusat budidaya anggur lokal. Paguyuban Petani Anggur Toyoresmi menjadi motor penggerak program ini. Mereka secara swadaya membangun kawasan eduwisata berbasis pertanian buah anggur yang diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan pertanian urban sekaligus mendongkrak perekonomian warga.
“Kampung Anggur ini lahir dari semangat gotong royong warga dan para petani. Kami menanam berbagai jenis anggur seperti Jupiter, Gusti, dan Akademi yang relatif mudah dirawat,” ujar Kepala Desa Toyoresmi, Gatot Siswanto.
Gatot menjelaskan, metode budidaya yang digunakan mengandalkan sistem greenhouse guna menjaga kualitas tanaman dari serangan jamur dan hama, terutama saat musim hujan. Selain itu, ke depan warga akan mengoptimalkan lahan kosong milik warga untuk dijadikan kebun anggur produktif.
Sementara itu, Saipud Ubaidi, salah satu penggagas Kampung Anggur, menargetkan pendekatan unik dalam pengembangannya: satu rumah, satu pohon anggur.
“Kami ingin semua warga terlibat. Targetnya satu rumah satu pohon. Selain mudah dalam perawatan, anggur memiliki nilai jual yang tinggi dan bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan kita pada buah impor,” terang Saipud.
Keberadaan Kampung Anggur disambut positif warga. Mereka berharap inisiatif ini mampu mendongkrak perekonomian lokal dan menjadi produk unggulan Kediri yang dapat bersaing di pasar nasional.
“Kami ingin buah lokal tak hanya untuk konsumsi sendiri, tapi juga bisa bersaing di dunia perdagangan buah nasional,” harap Saipud.
( Editor : Ryan & Trias M.A )



