Blitar, jurnalmataraman.com – Menjelang malam 1 Suro, suasana khidmat menyelimuti Kampung Baru, sebuah dusun yang terletak di titik paling utara Kabupaten Blitar, tepatnya di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum. Warga yang bermukim di lereng Gunung Kelud ini berkumpul di perempatan jalan utama untuk melaksanakan ritual doa keselamatan yang dikenal dengan tradisi Baritan, Selasa (16/6). Tradisi Baritan telah menjadi agenda tahunan yang sakral bagi warga setempat. Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud syukur dan permohonan agar seluruh warga diberikan keselamatan serta kelancaran dalam menjalani aktivitas sepanjang tahun, khususnya dalam menyambut bulan Suro.
Suasana semakin hening saat tetua kampung mulai merapalkan doa hajat dalam bahasa Jawa yang penuh makna. Momen ini sekaligus menjadi ruang guyub rukun bagi seluruh warga. Di hadapan mereka, tersaji berbagai hidangan khas kenduri yang dikemas rapi menggunakan wadah daun pisang, yang oleh warga setempat disebut sebagai takir klontang.
Ketua RT setempat, Gunariadi, mengungkapkan bahwa Kampung Baru memiliki ikatan emosional dan sosial yang sangat kuat. Terletak di wilayah yang berbatasan langsung dengan lereng Gunung Kelud, dusun ini dihuni oleh 33 Kepala Keluarga (KK) yang menempati 28 rumah. “Ini adalah tradisi turun-temurun untuk menjaga kebersamaan dan memohon perlindungan dari Tuhan,” ungkap Gunariadi.
Secara geografis, akses menuju Kampung Baru memang cukup menantang. Untuk mencapainya, warga maupun pendatang harus melintasi area perkebunan dengan kondisi jalan tanah yang belum teraspal. Namun, keterbatasan akses tersebut justru berbanding terbalik dengan hangatnya suasana di dalam kampung. Kerukunan warga terasa begitu kental dan ramah bagi siapa pun yang berkunjung. Di tengah keterbatasan infrastruktur, tradisi Baritan menjadi bukti bahwa kearifan lokal dan solidaritas warga lereng Kelud tetap terjaga dengan baik, menjadi pengikat utama dalam kehidupan bermasyarakat mereka.
( Editor : Afif / Yusa )



