Blitar, jurnalmataraman.com – Usia Muhammad Hasby Huda baru menginjak 18 tahun. Namun, di saat remaja seusianya mungkin masih sibuk dengan dunia hobi atau pendidikan, pemuda asal Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar ini sudah bersiap menuju Tanah Suci. Hasby resmi tercatat sebagai jemaah haji termuda dari Kabupaten Blitar tahun 2026.
Meski statusnya segera menjadi tamu Allah, tak ada kesan jemawa dari keseharian putra tunggal pasangan Siti Rofiah dan almarhum Miftahul Huda ini. Menjelang keberangkatannya, alumni MAN 1 Kota Blitar ini tetap terlihat sibuk dengan rutinitasnya sebagai peternak. Ia telaten merawat belasan ekor domba di rumahnya. Mulai dari mencari pakan (ngarit) hingga memberi nutrisi untuk ternaknya, semua dilakukan Hasby secara mandiri. “Tidak ada persiapan khusus (untuk haji). Sekarang lebih rutin olahraga fisik dan memantapkan hati serta iman saja,” ujarnya saat ditemui di sela aktivitasnya.
Perjalanan Hasby menuju Baitullah bukan tanpa cerita haru. Ia berangkat tahun ini sebagai pengganti posisi sang ayah. Seharusnya, keluarga ini berangkat tiga tahun silam. Namun, saat itu sang ayah jatuh sakit (dan kini telah berpulang). Hasby yang kala itu masih berusia 15 tahun sebenarnya sudah siap menggantikan posisi ayahnya. Namun, karena regulasi batasan usia minimal untuk jemaah haji, ia harus bersabar menunggu hingga usianya memenuhi syarat. Kini, penantian tiga tahun itu berbuah manis.
Hasby dijadwalkan terbang menuju Tanah Suci melalui Kloter 108 Embarkasi Surabaya. Menariknya, pemuda yang dikenal rajin membantu toko bangunan milik keluarganya ini akan menjalankan ibadah haji seorang diri tanpa didampingi anggota keluarga inti di dalam kloter tersebut. Di lingkungan tempat tinggalnya, Hasby memang dikenal sebagai anak yang ulet. Sejak masih duduk di bangku sekolah, ia tidak malu membantu orang tua. Selain merawat ternak, waktu luangnya di hari libur atau sepulang sekolah sering ia habiskan untuk menjaga toko bangunan milik keluarganya.
Kini, dengan fisik yang terus dilatih dan mental yang telah disiapkan, Hasby siap menyandang gelar haji di usia belia. Kisahnya menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa panggilan menuju Tanah Suci bisa datang kepada siapa saja, termasuk kepada seorang remaja yang setiap harinya masih setia memegang sabit untuk mencari pakan ternak.
( Editor : Saldi / Juwita )



