Trenggalek, jurnalmataraman.com – Dampak musim kemarau mulai dirasakan secara meluas oleh masyarakat di Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat per Selasa (18/8), tercatat sudah ada 25 desa yang tersebar di 10 kecamatan mengalami krisis air bersih. Wilayah terdampak tersebut meliputi Desa Wonoanti di Kecamatan Gandusari, sembilan desa di Kecamatan Panggul, Desa Prambon dan Duren di Kecamatan Tugu, serta Desa Timahan dan Bogoran di Kecamatan Kampak.
Kondisi serupa juga melanda Desa Wonocoyo dan Ngulanwetan di Kecamatan Pogalan, Desa Slawe dan Watulimo di Kecamatan Watulimo, serta Desa Pandean, Pringapus, dan Cakul di Kecamatan Dongko. Sementara di wilayah perkotaan dan penyangga, kekeringan melanda Desa Karangsoko di Kecamatan Trenggalek, Desa Srabah dan Depok di Kecamatan Bendungan, hingga Desa Sidomulyo di Kecamatan Pule. Demi menyambung hidup warga yang sumurnya mulai mengering, pemerintah terus menggenjot distribusi air bersih secara berkala. Pada Selasa ini saja, sebanyak 34.000 liter air bersih digelontorkan ke empat desa di dua kecamatan. Salah satunya menyasar warga di RT 5 dan RT 7, Dusun Sukorejo serta Dusun Karanggayam, Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek. Bantuan air bersih ini merupakan wujud atensi dari Gubernur Jawa Timur yang disalurkan secara terpadu melalui BPBD Trenggalek.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek Stefanus Triadi Atmono menjelaskan, distribusi air dilakukan secara bergilir dengan menyesuaikan tingkat kebutuhan warga serta ketersediaan armada di lapangan. “Lokasi penyaluran kita sesuaikan dengan kemampuan armada. Saat ini kami mendapat dukungan penuh dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, PDAM, serta armada operasional BPBD sendiri,” terang Stefanus.
Meski bantuan terus mengalir, warga mengaku pasokan tersebut masih terbatas untuk memenuhi seluruh kebutuhan harian. Sringatin, salah seorang warga terdampak di Desa Karangsoko, menuturkan bahwa sumber air di lingkungannya sudah seret dan mengering sejak sebelum Agustus ini. Menurutnya, fenomena kekeringan ini hampir selalu berulang setiap tahun. Bantuan air bersih dari pemerintah biasanya ia manfaatkan untuk keperluan mandi dan mencuci. Namun, volume yang didapat belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga seharian penuh.
“Dapat jatah empat galon air, biasanya hanya bertahan sekitar setengah hari untuk dipakai bertiga. Kalau habis, ya terpaksa harus menunggu dropping berikutnya,” keluh Sringatin.
Ia menambahkan, sumur di rumahnya sebenarnya masih menyisakan sedikit air, namun kondisinya sudah sangat keruh dan tiris. Air yang tersisa itu terpaksa ia prioritaskan hanya untuk keperluan memasak dan minum saja. Sebenarnya pembuatan sumur bor bisa menjadi solusi alternatif jangka panjang. Namun, mahalnya biaya yang mencapai sekitar Rp 13 juta membuat warga kecil sepertinya harus mengurungkan niat. Praktis, pasokan dropping air bersih dari pemerintah kini menjadi satu-satunya tumpuan harapan bagi warga sambil menunggu musim penghujan tiba.
(Editor: Trias / Dhamar)




