Tulungagung, jurnalmataraman.com – Ritual sakral pergantian busana rupang dewa digelar di klenteng tjoe tik kiong Tulungagung, menjelang perayaan imlek 2026. Pergantian warna dari kuning ke merah ini, menjadi simbol transisi menuju tahun baru yang penuh harapan dan doa.
Aroma dupa menyebar di seluruh ruang klenteng tjoe tik kiong, pada minggu siang. Di balik pintu kayu bercat merah yang tertutup rapat, umat melangsungkan ritual pergantian busana seluruh rupang dewa, dari warna kuning menjadi merah. Proasesi ini menjadi bagian penting, dalam menyambut tahun baru imlek 2026.
Pergantian busana tidak sekadar mengganti kain dan aksesori, bagi umat. Ritual ini menjadi simbol transisi, menuju tahun yang baru dengan harapan serta doa yang dipanjatkan secara khidmat. Warna merah dipilih karena melambangkan kebahagiaan, keberuntungan dan energi positif dalam tradisi tionghoa.
Bioma klenteng tjoe tik kiong Tulungagung, Tjio Jing Jing, menjelaskan, ” Prosesi diawali dengan persembahyangan di depan altar dewa mak co, dilanjutkan dengan ritual pakpoy untuk meminta izin secara spiritual, sebelum rupang dimandikan dan diganti busananya. Saat prosesi berlangsung, pintu altar ditutup dan hanya wanita lajang yang diperkenankan melaksanakan ritual sesuai aturan adat yang dijaga turun temurun. Total sembilan rupang dewa turut diganti busananya, menjadi merah sebagai simbol sukacita “.
Tahun baru imlek 2026 menandai pergantian ke tahun kuda api, dalam kepercayaan tionghoa. Unsur api melambangkan semangat dan energi besar namun juga berkaitan dengan potensi emosi yang tinggi. Umat diharapkan menjaga kesabaran dan ketenangan dalam menjalani tahun yang baru, doa dipanjatkan agar kehidupan di tahun ini membawa kelancaran rezeki, kesehatan dan panjang umur bagi semua.
(Editor : Saldi)



