Trenggalek, jurnalmataraman.com – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Trenggalek berujung petaka. Sebanyak 404 siswa dan 17 guru mengalami mules hingga diare massal usai menyantap menu sate ayam bumbu kacang pada Selasa siang (11/8). Hingga hari Rabu (12/8), aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut memang tetap berjalan. Namun, sejumlah siswa yang masih mengeluhkan sakit di perut harus mendapat penanganan medis lanjutan. Siswa yang kondisinya memburuk diperbolehkan pulang lebih awal dengan dijemput orang tua, sedangkan sisanya mendapat pertolongan pertama di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Kepala SMPN 1 Trenggalek Mokhamad Amir Mahmud membenarkan adanya insiden dugaan keracunan tersebut. Menurutnya, keluhan gangguan pencernaan itu merata dirasakan oleh ratusan warga sekolah dari total hampir 900 orang penerima manfaat.
“Menu yang dibagikan sehari sebelumnya adalah sate ayam tanpa tusuk dengan bumbu kacang. Pihak sekolah sudah melaporkan rentetan keluhan ini kepada SPPG dan meminta agar segera dilakukan pengecekan menyeluruh,” terang Amir.
Tingkat keparahan gejala yang dialami para siswa rupanya cukup beragam. Fafiano Kleon Raditya Putra, salah satu siswa, mengaku kelelahan karena harus bolak-balik ke kamar mandi hingga tujuh kali. Rekannya, Brizi Tehano Alfian, merasakan perutnya mulai mules sekitar satu jam usai menyantap hidangan tersebut. Brizi bahkan sempat menaruh curiga karena bumbu kacang yang dimakannya saat itu terasa sedikit berbeda dari biasanya. Hingga kini, penyebab pasti keluhan tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium lebih lanjut.
Insiden ini tak luput memicu kepanikan di kalangan orang tua murid. Yuswijayanto, salah seorang wali murid, mengaku kaget saat mendapati anaknya mendadak terserang diare pada dini hari pasca menyantap menu dari sekolah. Merespons hal ini, ia mendesak agar ada evaluasi total terkait proses penyediaan makanan. “Pelaksanaan program ini harus dievaluasi, terutama soal penerapan SOP atau Standard Operating Procedure di lapangan agar kejadian yang merugikan anak-anak seperti ini tidak terulang lagi,” tegasnya.
(Editor: Afif / Dhamar )




