Blitar, jurnalmataraman.com – Berawal dari kegemarannya meracik dan mengonsumsi jamu tradisional, seorang ibu rumah tangga asal Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, berhasil mengembangkan usaha minuman herbal yang kini semakin diminati masyarakat. Adalah Umma Sa’diyah, pemilik produk jamu “Jeng Umma”, yang mampu melihat peluang besar di tengah masa pandemi Covid-19.
Saat ditemui, Umma mengenang kembali momen ketika pandemi mulai melanda pada tahun 2020. Ketika itu, permintaan jamu meningkat karena banyak orang membutuhkan minuman herbal untuk menjaga stamina dan daya tahan tubuh. Namun ironisnya, sejumlah penjual jamu tutup akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat. Melihat kondisi tersebut, Umma berinisiatif meracik jamu beras kencur dan olahan kunyit untuk kemudian dijual secara mandiri.

Perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Di awal usaha, berkali-kali ia mengalami kegagalan dalam memproduksi jamu dalam jumlah besar. Tak jarang ia menerima keluhan dari pelanggan, mulai dari rasa jamu yang kurang kuat hingga warna yang terlalu bening. Bahkan, ratusan botol jamu yang diproduksi pada hari pertama sempat basi dan harus dibuang.
Menurut Umma, semua rintangan tersebut menjadi pelajaran penting. Kunci keberhasilannya saat ini ialah kesediaannya mendengarkan setiap masukan dari pembeli, memperbaiki kekurangan, dan terus menjaga kualitas rasa.
Didukung tujuh karyawan yang terbagi dalam tim produksi, pemasaran, dan administrasi, usaha jamu Jeng Umma kini mampu memproduksi hingga 150 liter jamu setiap hari. Berkat ketekunan dan konsistensi menjaga kualitas, usahanya berhasil meraih omzet antara Rp. 17 juta hingga Rp. 20 juta per bulan.
Kesuksesan Umma Sa’diyah menjadi bukti bahwa peluang usaha dapat lahir dari hal-hal sederhana, termasuk hobi yang digeluti dengan serius dan penuh ketekunan.
(Editor : Firda & Wahyu Adi)



