Kediri, jurnalmataraman.com – Selama tiga bulan terakhir harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional di Kota Kediri masih bertahan di level tinggi. Di Pasar Setono Betek, misalnya harga daging ayam tercatat masih berkisar Rp. 35.000 hingga Rp. 36.000 per kilogram.
Padahal beberapa waktu sebelumnya harga sempat menyentuh angka Rp. 38.000 per kilogram. Meskipun kini mengalami sedikit penurunan para pedagang mengaku harga tersebut masih tergolong mahal dan berdampak pada menurunnya keuntungan.
Sri Wulandari salah satu pedagang daging ayam di Pasar Setono Betek mengatakan bahwa tingginya harga ayam membuat omzet dagangannya menurun cukup signifikan.

“Harganya masih mahal karena di atas Rp. 20 ribu per kilogram untuk ayam hidup. Bisa dikatakan murah kalau ayam hidup di bawah Rp. 19 ribu. Sekarang untungnya menipis karena pakan mahal dan banyak ayam yang mati akibat cuaca buruk. Omzet turun sekitar 30 persen biasanya bisa jual 150 kilogram sekarang hanya sekitar 120 kilogram,” ujar Sri, Senin (3/11).
Pedagang menduga mahalnya harga daging ayam disebabkan oleh naiknya harga pakan serta tingginya angka kematian ayam akibat cuaca ekstrem yang menyebabkan gagal panen di sejumlah peternakan. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya pasokan ayam ke pasaran sehingga harga sulit turun.
Akibat harga yang tinggi permintaan masyarakat ikut menurun. Sejumlah pedagang bahkan memilih untuk mengurangi stok daging ayam agar tidak mengalami kerugian akibat barang dagangan tidak habis terjual.
Dengan belum stabilnya harga di pasaran para pedagang berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga pakan dan menjaga ketersediaan stok ayam agar harga daging ayam kembali normal dan daya beli masyarakat pulih seperti sedia kala.
( Editor : Nina & Wahyu Adi )



