Blitar, jurnalmataraman.com – Memasuki musim penghujan para perajin keripik gadung di Kabupaten Blitar menghentikan sementara aktivitas produksinya. Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat proses pengeringan bahan baku terganggu lantaran para perajin masih mengandalkan panas matahari untuk proses tersebut.
Pantauan di Dusun Sadeng Desa Karangbendo Kecamatan Ponggok sejumlah perajin tampak tidak lagi memproduksi keripik gadung sejak beberapa pekan terakhir. Selain terkendala pengeringan, gadung yang terkena air hujan juga berisiko menjadi beracun. Umbi gadung yang terlalu lembap bahkan akan terasa keras setelah digoreng sehingga menurunkan kualitas dan keamanan produk.

Bagi para perajin tradisional pembuatan keripik gadung memang menjadi aktivitas musiman yang hanya bisa dilakukan pada musim kemarau panjang, saat sinar matahari cukup untuk mengeringkan bahan secara alami.
Salah seorang perajin, Adib menuturkan bahwa seluruh perajin di wilayahnya telah menghentikan produksi sejak awal musim hujan. “Kalau sudah musim hujan begini, kami tidak bisa produksi karena gadungnya susah kering. Biasanya kami baru mulai lagi kalau kemarau sudah tiba,” ujarnya. Ia juga menambahkan harga jual keripik gadung di pasaran kini naik karena stok mulai berkurang.
Sambil menunggu datangnya musim kemarau beberapa bulan mendatang, sebagian perajin memilih beralih pekerjaan sementara seperti menjadi buruh tani atau berdagang agar tetap memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
( Editor : Pandu & Wahyu Adi )





