Jombang, jurnalmataraman.com – Puluhan santri dari sejumlah pondok pesantren di Kabupaten Jombang menggelar aksi doa bersama dan sholat ghaib sebagai bentuk keprihatinan atas insiden robohnya Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Mereka mendoakan agar para korban segera ditemukan dan proses evakuasi diberi kemudahan.
Di Pondok Pesantren At Tahdzib, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, para santri berkumpul di masjid untuk melaksanakan sholat ghaib dan doa bersama. KH Ahmad Masruh, pengasuh ponpes tersebut, menyampaikan bahwa peristiwa di Al Khoziny menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pesantren agar lebih berhati-hati dalam melakukan pembangunan.
“Kami turut berduka cita dan berharap seluruh korban segera ditemukan. Peristiwa ini menjadi peringatan agar pembangunan pesantren lebih memperhatikan kualitas bangunan dan tenaga ahlinya,” ujarnya. Ia menegaskan, pihaknya tidak merencanakan pembangunan bertingkat lebih dari dua lantai, mengingat lahan yang dimiliki masih mencukupi.

Kegiatan serupa juga digelar di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang. Para santri dengan khusyuk melaksanakan sholat ghaib dan doa keselamatan di dalam mushola pesantren. Gus Farid Al Farisi, salah satu pengasuh, menuturkan bahwa insiden tersebut harus menjadi perhatian seluruh lembaga pendidikan.
“Meski ini adalah takdir dari Allah, tetap harus ada ikhtiar dengan memastikan pembangunan pesantren dilakukan sesuai standar agar kejadian serupa tidak terulang,” ungkapnya.
Insiden robohnya bangunan Ponpes Al Khoziny menyedot perhatian publik. Hingga kini, proses evakuasi korban masih terus berlangsung. Sejumlah santri diduga masih tertimbun reruntuhan, sementara tim SAR dan relawan berjibaku melakukan pencarian di lokasi kejadian.
(Editor : Wahyu Adi)



