Kediri, jurnalmataraman.com – Dalam beberapa tahun terakhir, olahraga lari semakin menjamur dan menjadi salah satu aktivitas fisik yang digemari masyarakat dari berbagai kalangan. Kemudahan dalam melakukannya, biaya yang relatif terjangkau, serta fleksibilitas waktu dan tempat menjadikan lari sebagai pilihan populer untuk menjaga kebugaran tubuh.
Tak hanya sekadar aktivitas fisik, olahraga lari kini juga telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup. Komunitas-komunitas lari tumbuh subur di berbagai kota, turut memperkuat ekosistem olahraga ini. Bahkan, event lari berskala nasional hingga internasional pun kian sering digelar, dan selalu mendapat sambutan hangat dari para peserta yang datang dari berbagai daerah.
Namun, di tengah meningkatnya minat terhadap olahraga lari, muncul pula fenomena sosial yang tak dapat diabaikan. Sebagian kalangan menilai bahwa tren ini juga dipicu oleh budaya FOMO (Fear of Missing Out), yakni rasa takut ketinggalan tren atau eksistensi di tengah lingkungan sosial. Tak jarang, beberapa orang rela menggunakan joki Strava demi tampilan catatan lari yang impresif, atau berinvestasi besar hanya demi mengenakan outfit lari bermerek dengan harga fantastis.
Meski demikian, apabila dorongan tersebut mampu membuat seseorang tetap konsisten dalam berlari, maka hal itu tetap membawa sisi positif. Sebab, pada akhirnya lari tetap menawarkan manfaat besar bagi kesehatan fisik dan mental. Tidak sedikit yang justru menemukan pencapaian pribadi luar biasa setelah rutin berlari, sesuatu yang sebelumnya mungkin tak pernah mereka bayangkan.
Fenomena ini pun menjadi pengingat bahwa tren bukanlah hal yang sepenuhnya buruk, selama dijalani dengan kesadaran dan batasan diri yang jelas. FOMO mungkin bisa menjadi titik awal, tetapi konsistensi dan pemahaman atas manfaat olahraga adalah kunci utama untuk menjadikan lari sebagai bagian dari hidup sehat jangka panjang.
(editor : Trias M.A)



