Tulungagung, jurnalmataraman.com – Pemerintah Kabupaten Tulungagung akhirnya mengambil langkah tegas dengan menutup total akses Jembatan Junjung di Kecamatan Sumbergempol. Penutupan dilakukan menyusul masih nekatnya warga melintasi jembatan meski kondisinya rusak dan membahayakan.
Jembatan yang menghubungkan Kecamatan Sumbergempol dan Boyolangu itu kini tak lagi bisa dilewati kendaraan maupun pejalan kaki. Kedua ujung jembatan dipasangi pembatas besi yang dilas langsung pada konstruksi jembatan. Bahkan, di sisi Boyolangu juga ditutup tambahan dengan anyaman bambu.
Keputusan ini diambil untuk menghindari potensi kecelakaan, mengingat struktur jembatan yang sudah tidak layak. Sementara itu, warga berharap pembangunan jembatan bisa segera dilakukan, mengingat pentingnya akses tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau lewat jalur utama harus memutar jauh. Jembatan ini akses paling dekat,” kata Suryanto, warga Desa Junjung. Ia juga mengaku usahanya terdampak langsung akibat kerusakan jembatan. “Warung kopi saya sepi, karena orang yang lewat sudah tidak ada,” keluhnya.
Dampak ekonomi memang mulai dirasakan warga sekitar, terutama pedagang kecil yang mengandalkan lalu lintas warga antar kecamatan.
Pemkab Tulungagung melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menyatakan bahwa pembangunan jembatan baru dijadwalkan dimulai tahun 2026, dengan anggaran yang disiapkan sebesar Rp7,5 miliar dari APBD. Tahun 2025 akan difokuskan pada tahap perencanaan teknis dan persiapan lelang.
Dengan rencana pembangunan ini, diharapkan konektivitas warga antara dua kecamatan bisa kembali normal, sekaligus memulihkan aktivitas ekonomi di kawasan sekitar jembatan.
(editor : Trias M.A)



