Blitar, jurnalmataraman.com – Kenaikan harga bahan baku kedelai kembali menjadi sorotan, khususnya di Kota Blitar. Di kawasan Kelurahan Pakunden, yang dikenal sebagai sentra produksi tahu, sejumlah perajin mengeluhkan lonjakan harga yang memaksa mereka menurunkan volume produksi.
Dalam sebulan terakhir, harga kedelai impor sebagai bahan utama pembuatan tahu mengalami kenaikan signifikan. Dari yang sebelumnya Rp 9.000 per kilogram, kini mencapai Rp10.000 per kilogram. Kenaikan ini dinilai sangat membebani pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), terutama para pengrajin tahu.
Akibat lonjakan harga tersebut, kapasitas produksi turut terdampak. Biasanya, para pengrajin mampu memasak hingga 80 kali dalam sehari. Namun kini, produksi hanya bisa dilakukan sebanyak 62 kali per hari turun sekitar 20 persen dari kondisi normal.
Salah seorang karyawan perajin tahu, Delon Saputra, mengungkapkan bahwa sesuai instruksi pemilik usaha, pihaknya terus mencari solusi agar produksi tetap berjalan. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan mengecilkan ukuran tahu, agar harga jual di pasaran tetap stabil dan tidak memberatkan konsumen.
“Kita kurangi ukuran tahu sedikit-sedikit. Harapannya konsumen tetap bisa membeli, dan kita juga masih bisa bertahan,” ujar Delon.
Untuk sementara waktu, para perajin hanya bisa berharap agar kondisi pasar segera membaik. Jika situasi ini terus berlanjut, mereka terpaksa akan kembali mengurangi kapasitas produksi secara bertahap demi mempertahankan kelangsungan usaha.
Keluhan para perajin tahu di Blitar ini menjadi cermin betapa fluktuasi harga bahan baku sangat mempengaruhi pelaku usaha kecil. Mereka berharap ada perhatian dan solusi dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga kedelai, agar produksi dan keberlangsungan usaha kecil tetap terjaga.
(editor : Trias M.A)



