Blitar, jurnalamataraman.com — Harga kelapa parut di Kabupaten Blitar melonjak tajam dalam empat bulan terakhir. Kenaikan harga yang mencapai dua kali lipat dari harga normal ini dikeluhkan oleh sejumlah pedagang karena turut menurunkan daya beli masyarakat.
Di tingkat konsumen, harga kelapa parut kini mencapai Rp14.000 hingga Rp15.000 per butir. Sebelumnya, kelapa parut hanya dijual dengan harga Rp6.000 hingga Rp7.000 per butir. Kenaikan harga ini dirasakan cukup memberatkan, terutama bagi pedagang kecil dan pelaku usaha kuliner yang mengandalkan kelapa sebagai bahan baku.
Endik Pribadi, seorang pedagang kelapa di Desa Kendalrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, mengungkapkan bahwa seluruh stok kelapa yang ia jual berasal dari petani lokal. Ia membeli langsung dari petani dengan harga Rp10.000 hingga Rp12.000 per butir, tergantung ukuran buah. Setelah dikupas dan diparut, kelapa dijual kembali dengan harga lebih tinggi untuk menutup biaya produksi.
“Kenaikannya bertahap, bukan karena Lebaran atau bulan puasa, tapi karena produksi kelapa dari petani menurun drastis. Banyak pohon kelapa yang mati, jadi pasokan juga berkurang,” jelas Endik.
Kondisi ini membuat penjualan kelapa parut tidak lagi seramai sebelumnya. Konsumen, terutama rumah tangga, kini lebih selektif dalam membeli, bahkan sebagian beralih menggunakan alternatif bahan lain.
Para pedagang berharap pemerintah atau pihak terkait dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga dan mendukung keberlanjutan produksi kelapa lokal, agar harga kembali terjangkau dan roda ekonomi kecil tetap bisa berputar.
(editor : Trias M.A)



