Trenggalek, jurnalmataraman.com – Gelombang kenaikan harga kebutuhan bumbu dapur mulai memukul pedagang dan konsumen di Kabupaten Trenggalek. Dalam beberapa hari terakhir, harga komoditas bawang putih di Pasar Basah Trenggalek dilaporkan melonjak tajam. Kenaikan yang mencapai Rp 12.000 per kilogram ini sontak membuat daya beli masyarakat lesu.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga bawang putih yang sebelumnya berada di kisaran normal Rp 24.000 per kilogram, kini meroket tak terkendali hingga menyentuh angka Rp 36.000 per kilogram. Salah satu pedagang di Pasar Basah Trenggalek, Siti Fatimah, mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga ini sudah terasa sejak lima hari terakhir. Puncaknya terjadi dalam kurun waktu dua hari ke belakang.
“Kenaikannya sangat cepat. Hanya dalam dua hari saja, harga bawang putih langsung melonjak drastis hingga Rp 12 ribu per kilonya,” keluh Siti Fatimah saat ditemui di lapaknya.
Dipicu Kelangkaan Stok dari Tulungagung Menurut para pedagang, biang kerok dari meroketnya harga bawang putih adalah tersendatnya pasokan dari daerah penyuplai. Selama ini, pedagang Pasar Basah Trenggalek banyak mengandalkan kiriman stok dari pasar di Kabupaten Tulungagung. Namun, saat ini volume barang yang dikirim menyusut tajam dibandingkan kondisi normal. Ironisnya, selain jumlah pasokan yang terbatas, kualitas bawang putih yang datang juga tidak semuanya dalam kondisi prima. Hal ini semakin menyulitkan pedagang untuk menyortir dan menjual barang dagangannya.
Konsumen Pangkas Belanjaan Lonjakan harga ini tak pelak memaksa masyarakat, terutama kalangan ibu rumah tangga, memutar otak. Pola belanja konsumen langsung berubah drastis demi menyesuaikan pos pengeluaran dapur.
Banyak pembeli yang memilih memangkas volume belanjaan mereka. “Biasanya beli satu kilogram, sekarang banyak pembeli yang hanya sanggup membeli setengah kilogram saja karena harganya mahal,” tambah Siti. Para pedagang maupun konsumen berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk memantau kelancaran distribusi komoditas pangan. Pasalnya, jika pasokan terus tersendat, bukan tidak mungkin harga bumbu dapur akan semakin mencekik daya beli masyarakat menengah ke bawah.
( Editor : Saldi / Rahma )



